Newbie Corner

3 Alasan Kamu Tak Perlu Terkejut Jika The Next Warren Buffett adalah Wanita by Dedi Utomo

millennials.jpg

Banyak yang beranggapan bahwa pria adalah investor yang lebih baik dari wanita, studi penelitian terbaru membuktikan bahwa itu hanyalah “mitos”.

Sesuai laporan yang dirilis oleh Fidelity Investment berdasarkan analisis 8 juta kliennya, bahwa wanita cenderung memiliki kinerja investasi lebih baik di banding pria. Bahkan LouAnn Lofton menulis sebuah buku berjudul Warren Buffett Invests Like a Girl: : And Why You Should, Too. Buku tersebut menjelaskan bahwa ternyata Warren Buffett berinvestasi layaknya wanita.

women investing.jpg

Warren Buffett adalah investor yang paling disoroti di planet ini, dengan filosofi investasinya yaitu value investing , metode ini telah membujuk banyak investor untuk menerapkan metode yang sama. Lalu, apa yang menjadikan Warren Buffett investor paling terkenal? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa ia “berinvestasi seperti wanita”.

Baca Juga: Investasi Saham Ala Warren Buffett

Warren Buffett dalam seluruh karirnya telah mengikuti kebijakan berinvestasi dalam bisnis yang sehat dengan tujuan akan memegangnya selamanya. Dan itulah yang membedakan dia dari investor kebanyakan. Dia tidak bereaksi terhadap kegilaan pasar dan menghindari pola pikir trading jangka pendek

Apa yang Membuat Wanita Lebih Baik ketika Berhubungan dengan Investasi?

Ada sejumlah keterampilan bawaan yang membuat wanita menjadi investor yang lebih baik dari pria. Dari mengelola keuangan rumah tangga hingga penganggaran belanja bulanan, wanita lebih terasah dalam hal seni perencanaan dan menyusun strategi untuk mengoptimalkan penggunaan uang. Stockbit merangkum faktor-faktor yang jelas membedakan wanita dengan pria dalam hal investasi di pasar saham.

1, Wanita Berpikir Jangka Panjang

Wanita biasanya adalah investor jangka panjang, mereka tahu apa yang mereka beli dan karenanya dapat merencanakan diversifikasi dan alokasi portofolio dengan lebih baik. Wanita umumnya cenderung menghindari risiko.

2. Wanita Mampu Mengendalikan Emosi Mereka Lebih Baik

Karena wanita dapat berpikir jangka panjang, kualitas ini menjadi keuntungan besar saat berinvestasi di pasar saham. Pria memiliki kecenderungan untuk melakukan daily trading dan cenderung fokus pada fluktuasi harian. Mereka menjadi tidak sabar ketika pasar mengalami penurunan dan mungkin juga menjual saham dengan panik. Sedangkan, wanita lebih sabar, memahami adanya volatilitas dan cenderung mengabaikannya untuk menghasilkan hasil investasi jangka panjang mereka. Ini membuat mereka lebih sedikit dalam melakukan jual-beli saham jangka pendek, tetap tenang selama kondisi pasar sedang koreksi dan karenanya menghasilkan pengembalian yang lebih baik.

3. Wanita Bisa Melakukan Riset yang Mendalam

Wanita lebih efisien dalam hal mencocokkan investasi mereka dengan tujuan keuangan mereka. Wanita membutuhkan data yang detail dan bersedia menggali informasi sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan investasi. Ini membantu mereka menghasilkan prediksi dengan tingkat akurasi yang lebih baik.

Wanita Berpotensi Jadi Investor yang Lebih Baik, lalu Apa yang Membuat Mereka Menyerahkan Keputusan Investasi kepada Pasangan Mereka?

1. Kurangnya Kesadaran

Ini muncul karena banyak faktor seperti fasilitas pendidikan yang buruk, pernikahan dini, keluarga yang tidak mendukung, dll. Ini membuat mereka gugup atau kurang percaya diri untuk berinvestasi. Tetapi dengan pendidikan yang tepat, mereka akhirnya menjadi investor yang lebih baik. Menurut survei yang dilakukan oleh BritainThinks, hanya 38% wanita dibandingkan dengan 53% pria mengungkapkan bahwa mereka merasa percaya diri saat mengambil keputusan investasi.

2. Kekurangan Waktu

Di masyarakat, sebagian besar laki-laki memikul tanggung jawab keuangan, sedangkan wanita bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga. Wanita harus menghadapi beban tanggung jawab rumah tangga yang sangat besar karena mereka memiliki peran sebagai anak perempuan, ibu, istri, saudara perempuan dan menantu perempuan.

3. Tekanan Sosial

Rintangan lainnya termasuk persepsi yang dipegang masyarakat patriarkal tentang wanita, yang mungkin perlu lebih banyak waktu untuk diubah.

Tidak masalah kamu seorang pria atau wanita, kunci untuk investasi yang sukses tetap sama. Investasikan dalam bisnis berkualitas tinggi dengan perspektif jangka panjang dan ya sampai saat itu, kontrol emosi kamu.

Ini Bedanya Investasi Versi Orang Biasa Vs Milliarder by Dedi Utomo

sukses.jpg

Salah satu fakta era modern saat ini adalah semakin banyak orang yang menyadari pentingnya investasi sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai kekayaan. Sebagai bukti, makin banyak topik talkshow di televisi, radio, bahkan di banyak artikel populer di media massa terkait investasi. Mulai dari memperkenalkan berbagai jenis investasi hingga tips sukses investasi.

Alasan orang berinvestasi cukup bervariasi, namun kebanyakan adalah untuk menumbuhkan nilai kekayaan dan mencapai kebebasan finansial di masa pensiun. Tak sedikit orang yang bingung karena merasa sudah mengikuti berbagai tips tapi masih saja belum berhasil dalam investasinya. Nah, terkait masalah ini, kita bisa coba mengikuti pakem berinvestasi dari orang sukses seperti milliarder saham terkenal asal Amerika, siapa lagi kalau bukan Warren Buffett. Dia dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, karena kejeniusannya dalam urusan investasi.

Setelah ditelusuri, ternyata kunci keberhasilan opa Buffett dalam investasi adalah karena ia tidak memiliki prinsip seperti kebanyakan orang. Mau tahu apa saja prinsip Buffett ini?

Dunia semakin rumit! Meski begitu, tetaplah berpikir sederhana

Kita semua sadar, dunia berkembang begitu cepat. Teknologi dan terobosan baru selalu muncul dalam hitungan jam, disrupsi terjadi di mana-mana, selalu ada saja hal baru yang muncul dan diprediksi akan menjadi besar. Akhirnya, investor berbondong-bondong untuk menanamkan modal pada usaha rintisan ini.

Tapi, Milliarder Buffett berbeda, cara berpikirnya tetap sederhana, ia hanya berinvestasi pada hal-hal yang sudah terbukti jadi kebutuhan utama dalam kehidupan banyak orang, misalnya bisnis makanan, minuman, atau energi. Buffett tercatat berinvestasi di perusahaan seperti Kraft Heinz, Wells Fargo, dan Coca-Cola. Bukan berarti menolak berbagai inovasi yang bermunculan, Buffett hanya tidak mudah tergoda menanamkan modal pada produk yang diprediksi akan 'meledak' di pasaran, namun faktanya belum punya konsumen yang jelas.

Kenali seluk beluk bisnis yang akan ditanamkan modal

Poin ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya, menurut Buffett, mengenali bidang usaha dari perusahaan yang akan dipilih untuk investasi adalah sangat penting. Maksudnya begini, banyak orang di luar sana memutuskan untuk berinvestasi setelah ditawari oleh pihak yang belum mereka kenal dengan baik. Mereka tergiur dengan janji tingkat keuntungan besar yang akan diperoleh. Padahal, belum tentu mereka paham bidang usahanya seperti apa.

Ia terang-terangan menyatakan kalau tidak mau berinvestasi pada bisnis yang tidak diketahuinya secara mendalam. Yang menarik juga, Buffett bahkan merasa perlu mengenal manajemennya, menurut Buffett karakter orang yang menjalankan bisnis akan sangat menentukan kegagalan atau kesuksesan investasi yang ia lakukan. Jika ia merasa si pengelola tidak memiliki cukup kompetensi , maka Buffett pun akan menarik dana investasinya di perusahaan tersebut.

Paham betul nilai riil sebuah bisnis atau produk

Selain mengenal bidang dan manajemen yang mengelola, Buffett juga sangat ketat menyeleksi usaha atau produk yang jadi sasaran investasinya. Ia mesti benar-benar mengetahui nilai intrinsik dari bisnis tersebut. Misal begini, dengan tren pasar yang dinamis dan berubah-ubah, selalu ada saja produk atau bidang usaha yang mendadak mencuat jadi primadona. Dan ya, sesuai dengan hukum ekonomi, jika ketertarikan meningkat, maka nilainya pun melambung tinggi.

Kebanyakan orang akan tergoda dengan fenomena semacam itu, hingga mereka pun menginvestasikan dananya pada produk atau bidang usaha yang populer tadi. Padahal, nilai sesungguhnya belum tentu setinggi itu. Cara berinvetasi semacam ini sangat dihindari Warren Buffett. Ia berusaha keras mencari tahu nilai sesungguhnya dari sasaran investasinya. Jika memang nilai riilnya tinggi, baru Buffett memutuskan untuk berinvestasi.

Baca Juga: (Analisa Fundamental Saham) 3 Rasio Untuk Memilih Saham Yang Sedang Murah

Pasar rentan terpengaruh pemberitaan media massa, tapi Buffett tidak menghiraukan headline Berita

Di tengah arus informasi semakin deras, satu berita atau celetukan di media sosial saja bisa memicu polemik dan pergunjingan banyak orang. Hal semacam ini seringkali juga mempengaruhi sektor investasi akibat ada kepanikan atau antusiasme berlebihan terhadap suatu hal.

Tapi buat Buffett, ia merasa tidak peduli dengan headline berita atau rumor yang beredar di media massa. Seperti diterangkan sebelumnya, kalau ada antusiasme berlebihan pada produk atau usaha tertentu, Buffett akan melihat dan mempelajari dulu nilai riilnya secara cermat, dan tidak tergesa-gesa menanamkan modal.

Pahami cara mengukur kinerja investasi

Selain memperhitungkan kinerja investasi dengan baik, Buffett juga tidak mengharapkan keuntungan dalam waktu cepat. Menurutnya, kesalahan banyak investor adalah tidak berpikir panjang, dan akhirnya mengharapkan keuntungan instan. Terkait hal itu, seorang investor harus tidak mudah panik jika keadaan sedang memburuk, tapi juga tidak mudah tergoda kalau ada saham yang mendadak populer di pasar.

Jangka waktu investasi Buffett minimal adalah lima tahun. Hal itupun ia lakukan lewat proses yang sebelumnya sudah Stockbit bahas, mulai dari pilihan sektor usaha, mengenal bidang dan manajemen yang mengelola, memastikan nilai intrinsik, dan tentunya memantau kinerja investasinya dengan baik. Sederet prinsip dari Buffett ini sebetulnya tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa menggunakannya untuk keperluan investasi kita, meski skalanya tidak sebesar yang dijalani Buffett.

Yuk melek investasi saham, mulai investasi dari Stockbit.

Investasi bersama komunitas.

Apakah kamu adalah tipe investor yang agresif? by Dedi Utomo

agresif.jpg

"Agresif" adalah istilah yang sering kita dengar di dunia investasi. Apa arti sebenarnya dari kata agresif? Apakah kamu seorang investor yang agresif? Dan jika ya, apakah ini baik, buruk atau di antara keduanya?

Ingat! Ini tentang investasi kamu, bukan kepribadian kamu ya

Ketika kita berbicara tentang agresif dalam berinvestasi, kita lebih mengacu pada investasi yang dimiliki seseorang, dan lebih spesifik pada investor itu sendiri. Investor agresif adalah seseorang yang:

  1. Kamu berani mengambil risiko dan memilih instrumen investasi dengan potensi keuntungan yang besar.

  2. Kamu paham siklus investasi dan siap menerima volatilitas yang tinggi.

  3. Fluktuasi pasar dalam jangka pendek bukanlah masalah.

  4. Kamu berpengalaman di semua instrumen investasi dan memiliki pemahaman yang sangat baik tentang dunia investasi.

  5. Kamu Memiliki horizon waktu investasi yang panjang, di atas 5 tahun.

  6. Porsi investasi lebih banyak di saham dari pada instrumen lain.

Kamu dapat melihat bahwa berinvestasi secara agresif memiliki lebih sedikit kaitannya dengan kepribadian kamu, dan lebih banyak lagi hubungannya dengan pilihan investasi yang kamu pilih.

Seperti apa bentuk investasi yang agresif?

Dalam praktiknya, investasi agresif akan cenderung ke arah investasi yang berisiko, fluktuatif, atau keduanya, alokasi dana investasi akan lebih banyak ke instrumen saham daripada deposito atau obligasi. Berbeda dengan seorang investor yang konservatif, yang mana akan berinvestasi dalam instrumen yang tidak berisiko atau stabil.

Mengapa berinvestasi secara agresif?

Aturan emas berinvestasi adalah ketika kamu bersedia mengambil risiko lebih besar, kamu juga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik, tetapi timbal baliknya adalah ada peluang yang lebih tinggi untuk tidak menghasilkan laba sama sekali, atau bahkan rugi. Aturan emas itu adalah alasan utama orang berinvestasi secara agresif. Mereka mengambil risiko yang sedikit lebih besar dengan mengharapkan keuntungann yang lebih tinggi.

Jika kamu masih muda, kamu memiliki waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan nilai investasi kamu, dalam artian, kamu memiliki waktu yang lebih lama untuk membiarkan uang kamu bertumbuh.

Di sisi lain, jika kamu sudah berusia 60-an dan bersiap-siap untuk pensiun, kamu mungkin condong ke arah pendekatan yang lebih seimbang atau konservatif, sehingga kamu akan mengurangi porsi dana investasi di instrumen berisiko tinggi seperti saham, dan lebih banyak ke pasar uang seperti deposito, karena kamu mungkin ingin menikmati dana hasil kerja dan investsi yang sudah kamu lakukan selama ini.

Kapan investasi agresif tidak tepat untuk saya?

Menjadi muda tidak secara otomatis membuat investasi yang agresif cocok untuk kamu. Semuanya bermuara pada tujuan kamu bervestasi. Jika kamu berinvestasi saham untuk DP rumah dalam waktu 1 tahun ke depan, maka investasi yang agresif tidaklah cocok untuk kamu.

Investasi kamu hari ini akan terhubung ke tujuan kamu. Jika tujuan kamu sudah cukup dekat, maka kerugian investasi saham yang kamu lakukan dapat memengaruhi kemampuan kamu untuk mencapai tujuan itu. Tetapi jika tujuan kamu masih beberapa tahun katakan 5/7 tahun dari sekarang, maka kerugian hari ini atau besok bukan masalah karena kamu masih memiliki cukup waktu untuk menumbuhkan nilai investasi kamu.