Newbie Corner

Investasi Saham Bank BCA dari Tahun 2000, 10 juta Bisa Jadi Miliarder by Hilmawan Kusumajaya

Kamu tau ga? Selain nabung, kamu juga bisa beli saham bank BCA ($BBCA).

Dari sejak IPO tahun 2000 BCA sudah menghasilkan return 12.171%. Kalau dulu kamu investasi 10 juta di saham BCA, sekarang investasi kamu udah jadi 1.2 Milyar.

Kamu bisa lihat harga dan beli saham BCA dan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari Stockbit.





Sudah Kerja Keras Bagai Kuda tapi Gaji Bulanan Cuma Sebatas Lewat, Kenapa? by Dedi Utomo

gaji.jpg

Sebagian dari kita mungkin juga mengalami permasalahan yang sama,  kenapa ya uang tetap saja habis walau ada kenaikan gaji dari tempat kerja? Permasalahan ini dampaknya akan serius loh kalau tidak diatasi dengan segera.

Baik, coba kita ulas, sebenarnya kenapa uangmu bisa cepat habis walau gaji sudah bertambah.

Hutang yang tidak dilunasi

Buat kamu yang punya hutang dan harus membayar angsuran bulanan. Hati- hati, jika kamu membiarkan utang tersebut menumpuk maka kamu akan terjerat hutang dan susah untuk melunasinya. Ada baiknya kamu segera melunasi hutang kamu ketika memperoleh kenaikan gaji atau promosi jabatan.

Tingkat inflasi yang tidak diperhitungkan

Tahun kemarin kayaknya harga nasi ayam bakar masih 15rb, eh sekarang udah 20rb. Uang kosan juga naik. Kecenderungan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti makan dan tempat tinggal ini dinamakan inflasi. Jika kenaikan harga barang-barang ini lebih besar dari kenaikan gaji kamu, maka kamu akan kehilangan daya beli kamu terhadap barang tersebut. Harusnya seneng karena naik gaji, tapi ternyata harga barang-barang juga naik. Ujung-ujungnya kamu tidak bertambah makmur dengan kenaikan gaji kamu.

Kebiasaan hidup boros

Benar tidak? ketika kamu baru saja menerima gaji dari kantor tempat kamu bekerja rasanya pengen cepet-cepet ke mal buat belanja barang-barang, entah itu baju, makan di restoran terkenal, atau bahkan belanja sesuatu yang sebenarnya tidak kamu butuhkan namun kamu tetap membelinya. Kok gaji cepet amat ya habisnya? perasaan baru tengah bulan tapi dompet udah tipis aja. Dan akhirnya sesuatu yang sebenarnya kamu butuhkan malah tidak terpenuhi, ujung-ujungnya berhutang ke keluarga, bank, atau pinjaman online. Sebulan dua bulan mungkin tidak terasa dampaknya, namun untuk jangka panjang hal ini konsekuensinya bisa sangat serius. Segera hilangkan kebiasaan hidup yang seperti ini supaya kondisi keuangan kamu lebih baik di masa depan.

Meningkatnya gaya hidup

Seiring berjalannya waktu, akan tumbuh keinginan dalam diri kamu untuk meningkatkan gaya hidup. Misalnya, kamu tadinya pergi ke kantor naik bus tapi sekarang ingin naik motor atau mobil.

Kamu juga jadi cenderung memilih makan siang di restoran setiap hari daripada makan di kantin yang harganya jauh lebih murah.

Sah-sah saja kalau kamu menginginkan peningkatan gaya hidup, akan tetapi jangan sampai nantinya justru memberatkan kamu karena kenaikan pengeluaran lebih besar dari kenaikan gaji kamu di kantor.

Buat komitmen untuk membuat alokasi pengeluaran bulanan berdasarkan prioritas yang paling kamu butuhkan, agar keuangan kamu lebih teratur dan gaji kamu tidak sebatas lewat. Sisihkan sebagian uang gaji kamu dan mulailah berinvestasi.

Black Monday : Pelajaran dari Kejatuhan Pasar Saham Tahun 1987 by Dedi Utomo

black monday2.jpg

Apa sebenarnya yang terjadi dengan mata uang emerging market? Apakah pasar saham pernah mengalami kejatuhan? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari jatuhnya pasar saham? Kita bahas satu-persatu.

Ketika berbicara tentang kejatuhan pasar saham dan dampaknya, kebanyakan orang akan mengingat peristiwa  krisis tahun 2008 ketika Lehman Brother mengalami kebangkrutan dan peristiwa Black Monday tahun 1987.

Awal mula terjadinya pelemahan sebagian besar mata uang emerging market

Suku bunga The Fed turun tajam di tahun 2008, The Fed mengambil kebijakan mengeluarkan uang untuk membeli obligasi jangka panjang untuk memberikan stimulus ekonomi dengan memberikan kemudahan pemberian kredit untuk usaha. Sehingga jumlah dolar yang beredar semakin banyak di masyarakat dan lebih luasnya supplay dolar di emerging market juga tinggi. Inilah yang dinamakan dengan Quantitative Easing (QE).

Sementara sejak tahun 2013 The Fed secara bertahap melakukan pengurangan pembelian obligasi jangka panjang. Proses pengurangan pembelian obligasi secara bertahap itulah yang kemudian dikenal dengan istilah Tapering Off. Keinginan The Fed mengurangi stimulus atau Tapering Off telah membuat dana asing yang parkir di emerging market ramai-ramai keluar. Sehingga sebagian besar mata uang di emerging market cenderung melemah terhadap dolar AS di tahun 2013.

Tapering Off di tahun 2013 masih bisa teratasi, karena walaupun The Fed mengurangi stimulus, namun bank sentral AS itu masih mempertahankan tingkat suku bunga rendah. Yang menjadi perhatian utama investor ketika itu adalah suku bunga acuan atau Fed Rate, bukan lagi pembatasan stimulus.

Jika Fed Rate naik, barulah hot money yang selama ini ada di negara berkembang termasuk di Indonesia akan hengkang dan kembali ke negaranya.

Dan akhirnya terjadilah apa yang dikhawatirkan oleh investor, di mana sejak Desember 2015, secara bertahap bank sentral Amerika menaikkan suku bunganya dan lebih parahnya disertai kebijakan proteksionisme pemerintah Amerika yang memicu terjadinya trade war (perang dagang) terhadap sejumlah negara. Fed Fund Rate yang naik dan kebijakan-kebijakan pemerintah AS yang cenderung menutup diri dari kerjasama internasional yang selama ini kurang menguntungkan menyebabkan dolar di emerging market tanpa ragu hengkang kembali ke negara asalnya. Pada akhirnya mayoritas mata uang di emerging market mengalami pelemahan terhadap dolar karena supplay dolar yang menipis seperti yang terjadi saat ini.

 Sumber : Tradingeconomics

Sumber : Tradingeconomics

Bagaimana dengan Black Monday tahun 1987? Apa analoginya dengan kondisi saat ini?

Kronologi terjadinya Black Monday

19 Oktober 1987 bursa di Wall Street runtuh dalam kurun waktu satu hari. Penyebab keruntuhan menjadi perdebatan. Kejadian ini dikenal sebagai "Black Monday" atau "Senin Hitam".

Sebenarnya pada 1987 indeks Dow Jones mengalami tahun yang baik. Beberapa bulan sebelum Senin Hitam, indeks sahamnya meningkat. Bahkan di bulan Agustus naik 15 persen hingga mencapai 2.700.

Beberapa minggu menjelang keruntuhan, indeks merosot drastis ke kisaran 2.200. "Kehilangan 500 poin menyebabkan laba tahunan yang diperoleh hilang saat Senin Hitam.

Indeks Dow Jones jatuh hingga 22,6 persen hanya dalam sehari. Penurunan ini adalah yang paling drastis dalam sejarah indeks Dow Jones.

"Bagi saya yang orang baru di lantai bursa, rasanya seperti kiamat", cerita pialang Louis Sulsenti. "Saya pikir, ini akhir dari pasar bursa dan perdagangan saham. Kacau sekali, namun masih terorganisir."

Hingga kini masih tidak jelas apa penyebab keruntuhan bursa tersebut. Pakar sejarah keuangan Sylla mengatakan, selain perkembangan keuangan global, teknologi baru yang digunakan juga memainkan peranan. Kejatuhan pasar saham tahun 1987 terjadi dengan latar belakang pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Antara Januari dan Oktober 1987, The Fed menaikkan FFR (Fed Fund Rate) hampir 100 basis poin ke angka 7.25% membuat pinjaman kredit terasa lebih berat dengan bunga tinggi dan harga sahampun mengalami kejatuhan karena dunia usaha lesu.

Pengamanan strategi portfolio seharusnya melindungi pemegang portfolio saham besar dari kerugian yang terlalu besar. Celakanya, sistem akan menjual saham secara otomatis ketika kurs jatuh. Metode yang seharusnya memastikan penjualan berjalan lebih aman, pada akhirnya merugikan para pemilik saham.

Pelajaran dari peristiwa "Black Monday"

Mengutip dari catatan pengalaman pribadi Steven Goldberg yang dimuat di Kiplinger pada 9 Oktober 2017.

"Saya belajar beberapa hal dari peristiwa Senin Hitam. Inilah kunci utama saya dari kecelakaan 1987 dan akibatnya."

"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di pasar saham. Tidak ada “uang pintar” yang memiliki ide lebih baik daripada Anda atau saya tentang ke mana arah pasar berikutnya. Bersikaplah rendah hati tentang kemampuan Anda untuk memprediksi pergerakan pasar. Saya keliru ketika saya merasa percaya diri  dan mengira market timing saya sudah tepat."

Hal yang sama berlaku untuk ekonomi. Resesi adalah bagian dari permainan, begitu juga inflasi. Prediksi adalah tebakan, yang terbaik adalah tebakan terbaik.

"Harapkan apa saja. Pasar saham bisa jatuh hari ini atau besok. Sesuatu seperti apa yang terjadi pada Senin Hitam hampir pasti akan terjadi lagi. Gejolak dan pasar yang kejam adalah bagian dari investasi. Itulah mengapa uang yang tidak Anda relakan untuk hilang bahkan untuk sementara, tidak seharusnya ada di pasar saham. Saya beruntung tetapi bodoh karena berinvestasi saham dengan uang kuliah anak tiri saya."

"Jangan pernah membuat gerakan besar seperti yang saya lakukan sebelum Senin Hitam ketika saya menjual aset saya demi untuk membeli saham. (Tentu saja, saya masih muda dan tidak terlalu banyak berinvestasi). Saya berbicara dengan investor lebih sering daripada yang Anda kira, yang telah keluar dari pasar sejak 2008, dan sedang menunggu kejatuhan pasar saham lain untuk kembali investasi ke saham. Mereka telah mendapatkan keuntungan besar dari peristiwa resesi ekonomi."

Sejarah telah mencatat bahwa pasar saham telah beberapa kali mengalami kejatuhan dan berhasil bangkit lagi. Tidak satu orang pun mengatakan bahwa Anda salah ketika mengurangi kepemilikan saham Anda di saat prospek saham tampak redup atau membeli lebih banyak saham ketika semuanya terlihat bagus. Tetapi memotong (atau menaikkan) alokasi Anda ke saham lebih dari 10% atau 20% mungkin akan menjadi kesalahan. Saham masih merupakan tempat di mana Anda mungkin akan mendapatkan uang paling banyak dalam jangka panjang jika Anda tetap menahannya, dan pasti akan terjadi penurunan selama masa investasi tersebut, sehingga Anda tidak perlu menggunakan uang panas (uang yang dibutuhkan sewaktu-waktu) untuk investasi saham.

 

 

The Power of Compounding Interest. Making RM 1,000 into RM 1,000,000 by aqeel ungku

Written by Rondy Yunanda (@Ryunanda in Stockbit)

The not so secret investment tool

In this blog post, I will be sharing a “not so secret investment lesson” that probably everyone would and should have known. I’m talking about compounding interest. For those who are new to the investment world, compounding interest is basically just interest stacked on interest. Compounding helps your money grow exponentially as the interest earned is continually 'added' to the 'base' amount. This new net amount will then be the amount that interest rate will be calculated against. This forms a continuous cycle that will allow you to earn an ever increasing net amount of money!

Compounding is probably the most powerful investment tool ever. To illustrate this, assuming that I can offer you a 100% interest everyday on your investment. An initial RM 1,000 investment will become RM 2,000 investment on the second day, RM 4,000 on the third day, and… RM 1,000,000 on the twelfth day!

Of course the illustration above is unrealistic and way too good to be true. Currently, the best FD rate offered is 4.6% return per annum (year) and yes, while that interest rate feels like a bummer, everyone, yup, everyone can still be a millionaire through good saving habits and compounding interest.

The most important ally to compounding interest, apart from the rate of return (“interest”) are:

1) Time and

2) A good habit of allocating monthly savings to invest for the future

Do you know that you can become a millionaire after 35 years by saving RM 1,000 monthly in a risk - free fixed deposit paying 4.6% interest per annum If however, instead of investing in this relatively  lower yielding fixed deposit, you are to invest in an asset class that yields an average 20% interest per annum - you would have made your first million after only 16 years.. and made RM 36 million within 35 years!

The biggest takeaway therefore, is that a small difference in return can make a big difference in wealth in the long run.

es.JPG

Investing in the stock market

This brings us to the next question - how can we increase the rate of return on our investments? Well, investing in the stock market is definitely one of the method of making that difference in returns. Stock market is deemed by many as “risky” and while that notion is not wrong, it is definitely one that can be argued.

Historically speaking, there is a high probability that long term investments in stocks will yield positive returns. For instance, if you compare the performances of any blue chip stocks in the KLSE / KLCI index over the past 10 years, approximately 90% will yield a positive return! Sure, there are some blue chip stocks that had lost its value over this period and can no longer be categorized as a blue chip. This scenario however, is uncommon.  Furthermore, if you happen to invest in the right company like Nestle, you could be looking at about 500% return. Do you also know that if you had invested in America’s S&P 500 index (an index that constitute 500 largest stocks in America) 10 years ago, you would have earned  an annualised 22.5% return? (you can do this via ETF but that’s a topic for another day!)

Time is therefore the most loyal partner to investors and the stock market is one of the most powerful investment instruments to gain compounding profits in the long run. Today's investors are blessed with a variety of support that ease their investment processes, thus allowing them to be able to begin investing early on in life. The difficult part is just to start this good habit! Last and foremost, investing in the stock market is a long term process - you will need time to learn and gain experiences to eventually be able to make sound investment decisions.

fd.JPG

 

Summary

In summary, compounding is a very powerful tool for wealth creation. Diligent investment in the stock market is a method to increase the rate of return / compounding on your profit, and it is important to start early with good investment habits to maximise this potential.

Reference

1) check out our fellow stockbitor's (@mengteck) video on compounding interest, very insightful! https://www.facebook.com/savwee.my/videos/1715154898715548/

2) Interest calculator - https://www.msn.com/en-us/money/tools/timevalueofmoney

3 Strategi Jitu Raih #MerdekaFinansial by Dedi Utomo

 Sumber : Kompasiana.com

Sumber : Kompasiana.com

Merdeka Finansial! Target keuangan yang diimpikan oleh sebagian besar orang. Kamu kah generasi milenial yang menginginkan kebebasan/merdeka secara finansial? Jika iya, sudahkah kamu mempersiapkannya?

"Sadarilah, mencapai kemerdekaan finansial butuh kerja keras, berhemat, dan sedikit melakukan pengorbanan dalam gaya hidup demi membuat perencanaan keuangan yang baik. Kesalahan dalam pengelolaan keuangan di awal usia 20 tahun efeknya akan langsung kamu rasakan ketika usia 30-an." kata John Patrick Ellis, CEO Compare88 Group.

Kali ini Stockbit akan membagikan strategi jitu untuk mencapai kemerdekaan finansial yang bisa kalian coba terapkan.

Langkah menuju merdeka secara finansial

  • Lacak dan evaluasi keuangan kamu

Kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka habiskan dari uang gaji yang mereka terima setiap bulan. Ibaratnya gaji hanya sekedar numpang lewat. Bagi kamu yang baru mulai ingin memiliki dana dalam jumlah tertentu, catatlah setiap pengeluaranmu dalam 1 bulan, baik itu sewa rumah, kosan, makanan, listrik, dll. Lalu bandingkan dengan pemasukan yang kamu dapat.

Langkah pertama menuju kemerdekaan finansial adalah mencari cara untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Ini dapat dilakukan dengan melacak pengeluaran kamu dengan hati-hati dan menyingkirkan biaya yang sebenarnya tidak menambah kebahagiaan dalam hidup kamu. Tujuannya adalah membelanjakan lebih sedikit daripada yang kamu hasilkan. Selama kamu dapat melakukannya secara konsisten, keuangan kamu akan terus meningkat.

  • Passive income lebih besar dari pengeluaran

Temukan sumber penghasilan lain, cari dan temukan peluang untuk memperoleh penghasilan tambahan selain dari gaji bulanan kamu.

Ini sederhana, setelah passive income kamu melebihi pengeluaran kamu secara konsisten, kamu akan bebas secara finansial. Ada cara lain untuk mendefinisikan kebebasan finansial, tetapi ini adalah yang paling aman. Kamu tidak akan pernah kehabisan uang jika penghasilan pasif kamu sudah bisa menutupi biaya hidup.

  • Simpan dan investasikan sebanyak yang kamu bisa

Langkah selanjutnya adalah menyimpan dan berinvestasi sebanyak yang kamu bisa. Ini akan menentukan seberapa cepat kamu bisa mencapai kebebasan finansial. Jika kamu menghemat 10% dari penghasilan yang kamu terima, akan membutuhkan waktu 50 tahun untuk mencapai kebebasan finansial, atau seumur hidup. Namun, jika kamu dapat menghemat 70% dari penghasilan, kamu dapat mencapai kebebasan finansial dalam waktu kurang dari 10 tahun. 70% mungkin terlalu berat untuk dilakukan. Maka dari itu kamu bisa memulainya secara berangsur, mulai dari 20% atau 30% dari uang gaji kamu setiap bulannya untuk disisihkan sebagai dana investasi untuk masa pensiun nanti. Investasi bisa kamu lakukan dengan membeli saham di Bursa Efek Indonesia. Mulai investasi saham di perusahaan yang kamu kenal dulu, dengan begitu uang investasi kamu akan relatif lebih aman, Pelajari dan kenali karakteristik dari perusahaan yang bagus untuk investasi jangka panjang. Keuntungan investasi di saham adalah adanya kekuatan compounding (Compound interest), yang mana kamu bisa menginvestasikan kembali return yang kamu peroleh untuk meningkatkan modal investasi kamu di tahun berikutnya. Sehingga nilai investasi kamu akan terus meningkat dengan lebih cepat.

Mulai deklarasikan kemerdekaan finansial kamu, dan berkomitmen untuk memperjuangkannya. Gabung dengan komunitas saham terbesar di Indonesia seperti 100 ribu investor lainnya dan mulai berinvestasi saham. Diskusikan perencanaan keuangan kamu dengan investor-investor sukses yang sudah join Stockbit.

Promo 17an

Selama bulan Agustus, kamu bisa ikutan promo #MerdekaFinansial Deposit minimum Rp 1.7 Juta kamu bisa dapat Stockbit PRO Gratis Seumur Hidup. Info lengkap bit.ly/stockbitmerdekafinansial atau klik tombol di bawah.

Bagaimana Biar Tidak Panik Saat Harga Saham yang Saya Beli Jatuh? by Hilmawan Kusumajaya

  Kredit foto:    Francisco Moreno    (Unsplash)

Kredit foto: Francisco Moreno (Unsplash)

Post ini adalah guest post dari @arif, founder Bolasalju.com

Sebuah saham LQ-45 turun -46% dari harga tertingginya selama 2 tahun. Bagaimana caranya biar tidak tegang, panik, atau stres ketika harga saham yang saya beli jatuh?

Membeli saham artinya memiliki secuil bagian perusahaan. Sebagai pemilik, kita berhak atas keuntungan perusahaan, atau dari pertumbuhan sahamnya di masa depan, selama kita memiliki perusahaannya.

Sebuah perusahaan berbeda dengan sahamnya. Perusahaan tumbuh, harga sahamnya bisa turun. Perusahaan merugi, ternyata saham bisa naik. Maka, harga saham tidak relevan. Tidak penting untuk diperhatikan. Namun kita harus tahu harga saham BISA penting karena ia memberi kesempatan bagi investor untuk memiliki perusahaan di harga lebih murah. Atau menjualnya saat pihak lain yang agresif berusaha memiliki perusahaan itu dengan harga lebih mahal. Harga saham—baik naik atau turun—hanya seperti kebisingan pasar.

Ada saham yang turun drastis, bahkan hingga -50% selama beberapa tahun. Sementara itu, perusahaan masih membagi dividen sekitar 2–7% dibanding harga sahamnya, atau 20%-100% dari laba mereka, setiap tahun. Lalu, kenapa harus tegang?

Selama perusahaan bagus, sebatas didukung keuangan yang kuat, sejauh penjualan masih ada pertumbuhan, dan sepanjang manajemen tidak berulah dan masih terjaga integritasnya—kita bisa memiliki perusahaan itu di harga yang rasional yang menjaga batas kesalahan kita dan sekaligus memberi potensi keuntungan di masa depan.

Memang banyak orang tegang karena harga sahamnya jatuh. Misalnya: seseorang yang berniat spekulasi, mereka yang tidak tahu saham apa yang ia beli, pembeli saham yang hanya ikut-ikutan, petaruh yang berharap harga sahamnya akan terus naik, atau orang-orang yang serakah.

Maka, abaikan semua hal yang menyebabkan ketegangan memiliki saham jatuh. Balik situasi. Fokus ke hal yang lebih penting saat berinvestasi. Kamu akan gembira saat saham jatuh.


Didirikan sejak 2010, Bolasalju menyediakan edukasi dan riset berupa ide investasi siap eksekusi.

Website: bolasalju.com

Yuk diskusi dengan @arif bolasalju di Stockbit

 

 

1 dari 3 Generasi Milenial Ternyata Salah dalam Membuat Keputusan Investasi by Dedi Utomo

 Sumber : CIM Business Bulletin

Sumber : CIM Business Bulletin

Hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar GfK SE terhadap generasi milenial di Amerika tentang performa investasi para milenial baru-baru ini menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Simak fakta tentang Investasi milenial dan kesalahan mereka dalam hal keputusan investasi berikut ini.

Generasi Milenial masih berpikir bahwa memegang cash adalah investasi jangka panjang yang terbaik untuk mereka, sehingga tidak mengherankan bahwa return yang berhasil mereka peroleh dari investasi ini tidaklah memuaskan. Hampir 1 dari 3 milenial mengatakan bahwa instrumen pasar uang, seperti rekening tabungan dan deposito adalah tempat terbaik untuk menginvestasikan uang yang tidak akan mereka pakai selama 10 tahun ke depan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk Bankrate.com oleh perusahaan riset pasar GfK SE, dengan mengumpulkan data 1.000 orang Amerika usia 18 tahun ke atas pada bulan ini.

Lebih dari 1 dari 5 milenial mengatakan bahwa mereka mendapatkan kurang dari 1% per tahun dari bunga tabungan & deposito yang mereka miliki, sementara sekitar 19% dari generasi milenial mengatakan mereka tidak mendapat bunga/return apapun dari uang yang mereka simpan. Data ini menunjukkan bahwa milenial tidak mendapat hasil yang baik dari uang tabungan mereka.

Hasil Bunga Tabungan Milenial

Sumber: Bankrate.com

Sebagai gambaran bahwa target inflasi Amerika adalah di angka 2% , jadi, ketika kinerja investasi atau tabungan di bawah angka itu, artinya orang tersebut telah kehilangan daya belinya terhadap suatu barang.

Milenial Amerika lebih memilih saham sebagai alternatif investasi mereka

Pilihan Investasi Milenial

Sumber : Bankrate.com

Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa 1 dari 3 milenial Amerika lebih memilih saham sebagai alternatif investasi untuk uang yang tidak akan mereka pakai selama 10 tahun ke depan. Angka ini sebenarnya masih terbilang sangat kecil untuk negara sekelas Amerika. Namun apa jadinya dengan Indonesia? Hmm mungkin bisa lebih kecil lagi dibanding angka tersebut. Penyebab utama kecilnya persentase investor milenial di instrumen saham ini adalah lantaran adanya efek traumatis paska krisis moneter pada tahun 2008. Sebagai generasi yang pernah mengalami dasyatnya guncangan perekonomian akibat krisis, tentu tidak mudah untuk kembali percaya dan meletakkan uang mereka pada instrumen yang cukup berisiko seperti saham. 

Namun saat ini, milenial sangat membutuhkan investasi saham untuk meningkatkan nilai kekayaan mereka dan memperoleh uang yang cukup untuk masa pensiunnya. McBride  berkata, bahwa setiap $1.000 yang mereka investasikan di saham saat ini, bisa bernilai $15.000 ketika mereka pensiun nanti. Tapi tidak akan terjadi bila mereka meletakkan uang mereka pada instrumen save-haven.

Baca juga : 5 Tips Cerdas Investasi Saham Untuk Investor Pemula

Jadi, jika kamu adalah generasi milenial yang ingin mencapai kebebasan finansial dan mempunyai uang yang cukup untuk masa pensiun kamu. Jangan ragu lagi untuk memulai investasi saham sejak dini, karena semakin awal kamu memulai investasi saham, semakin besar pula potensi keuntungan yang akan kamu peroleh di masa depan dengan memanfaatkan kekuatan compound return.

3 Prinsip Investasi Jangka Panjang Agar Dapat Memperoleh Keuntungan by Hilmawan Kusumajaya

Post ini adalah guest post dari tim @AjaibRobo

Kesuksesan dalam dunia berinvestasi tentu tidak bisa diperoleh begitu saja, Anda harus mengetahui prinsip-prinsip dasar agar dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Selain itu, penting bagi Anda untuk disiplin dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut.


Quick Bites:

·       Investasi jangka panjang: definisi, tujuan, jenis-jenisnya

·       Investasi yang baik adalah investasi dengan imbal hasil yang besar namun dengan tingkat risiko rendah


Investasi Jangka Panjang

Secara umum, investasi merupakan penanaman modal yang berhubungan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan harapan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang atau masa depan.

Menurut teori ekonomi, investasi didefinisikan sebagai pembelian atau produksi dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang atau barang produksi.

Investasi terbagi menjadi 2 jenis berdasarkan jangka waktunya, yakni:

·       Investasi jangka panjang

Merupakan investasi dimana dana yang digunakan akan diputar dan baru dapat dicairkan apabila sudah tiba jangka waktu tertentu. Biasanya didefinisikan dengan jangka waktu paling cepat 12 bulan.

·       Investasi jangka pendek.

merupakan investasi yang dapat segera dicairkan atau didanai dari kelebihan dana yang sifatnya sementara. Biasanya didefinisikan dengan jangka waktu 1 hingga 12 bulan.

 

Pembahasan kali ini akan terfokus pada investasi jangka panjang. Dimana investasi jangka panjang memiliki tujuan yang tentunya berbeda dengan investasi jangka pendek. Adapun tujuan tersebut antara lain sebagai berikut:

·       Mengarahkan dana khusus

·       Menjamin adanya bahan baku dan pasar untuk produk yang akan dihasilkan

·       Menurunkan persaingan antar perusahaan sejenis

·       Mendapatkan penghasilan pasif dalam setiap periode, seperti bunga, royalti, deviden atau uang sewa.

 

Sedangkan jenis investasi jangka panjang pun cukup beragam jenisnya, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1.     Emas

2.     Properti

3.     Reksadana

4.     Saham

5.     Program Pensiun

6.     Obligasi

 

Akan tetapi, selain mengetahui jenis dari investasi jangka panjang tersebut, Anda perlu mengetahui bagaimana cara agar memperoleh keuntungan dari investasi jangka panjang. Melalui artikel berikut, Ajaib Robo akan memberikan beberapa rahasia prinsip investasi jangka panjang bagi Anda:

Prinsip Investasi Jangka Panjang

Idealnya, sebuah investasi terbaik adalah investasi dengan imbal hasil yang besar namun dengan tingkat risiko rendah. Namun umumnya imbal hasil berbanding lurus dengan tingkat risiko, sehingga sangat sulit mencari sebuah investasi yang ideal seperti itu.

Jika Anda menemukan investasi ideal, selalu pelajari lebih lanjut terlebih dahulu mengenai produk investasi tersebut. Mengingat banyaknya investasi bodong yang merajalela dengan tawaran menggoda seperti keuntungan berkali-kali lipat secara instan. Jangan sampai Anda menjadi salah satu korbannya.

Untuk bisa memaksimalkan instrumen investasi sehingga memperoleh keuntungan maksimal, jangan tergoda dengan tawaran keuntungan instan. Melainkan Anda perlu menerapkan beberapa prinsip investasi jangka panjang sebagai berikut:

#1 Berkorban demi Masa Depan

Banyak dari generasi millennials yang sulit memilih pilihan ketika diberikan dua pertanyaan dibawah ini:

·       A: Hidup bersenang-senang sekarang dengan pergi ke restoran setiap hari dan membeli barang-barang mewah, tetapi masa depan suram dimana rumah masih kontrak, makan pun harus berhemat

ATAU

·       B: Hidup sederhana sekarang, pergi ke restoran hanya sebulan sekali dan menggunakan barang-barang sederhana, tetapi masa depan cerah serta sejahtera dengan rumah bernilai milyaran rupiah dan seluruh kebutuhan terpenuhi.

Dari kedua pertanyaan tersebut, dapat diketahui bahwa Anda yang memilih pilihan B cenderung memikirkan masa depan Anda. Hal tersebut dapat Anda lakukan dengan cara berinvestasi jangka panjang. Singkatnya, berinvestasi jangka panjang artinya mengorbankan kesenangan saat ini untuk kemudian dinikmati berlipat ganda di masa depan. Kuncinya adalah semakin lama Anda berinvestasi (semakin dini dimulai), maka semakin besar pula nilai yang bisa Anda peroleh.

#2 Waktu adalah Faktor Utama

Jika Anda pernah berpikir untuk apa melakukan investasi sekarang, cobalah pikirkan kembali. Waktu merupakan sebuah hal terpenting dalam hidup manusia, dimana waktu yang sudah terlewati tidak akan bisa diputar kembali. Selain itu, waktu adalah satu hal yang tidak dapat dibeli, bahkan dengan uang sekalipun.

Seperti telah diungkapkan pada poin sebelumnya, semakin lama Anda berinvestasi maka semakin besar pula nilainya. Artinya disini Anda perlu memperhatikan pentingnya waktu untuk dapat memaksimasi nilai investasi Anda.  Jadi, berinvestasilah untuk menjadi kaya bukannya menunggu kaya baru memulai investasi.

#3 Kesabaran yang Membuahkan Hasil

Salah satu kesalahan paling umum dalam berinvestasi adalah tidak sabar, menginginkan hasil yang besar dalam waktu singkat alias INSTAN. Penting untuk diketahui bahwa dalam berinvestasi Anda membutuhkan kesabaran.

Oleh karena itulah ada investasi jangka panjang, dimana keuntungan atau imbal hasil investasi umumnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang (lebih dari 1 tahun).

Sebagai contohnya, akan sulit memperoleh keuntungan dari saham atau reksadana hanya dalam satu minggu saja, mengingat adanya fluktuasi harga yang akan mempengaruhi imbal hasilnya. Namun dengan pengamatan jangka panjang, Anda bisa memaksimalkan keuntungan.

Intinya adalah bersabar dan jangan serakah. Dengan demikian Anda bisa memaksimalkan keuntungan investasi jangka panjang Anda.

Inti dari investasi jangka panjang adalah memanfaatkan jangka waktu yang panjang untuk dapat memaksimasi keuntungan. Umumnya investasi ini sesuai dengan perencanaan kebutuhan jangka panjang, misalnya saja dana pensiun atau dana pendidikan anak. Pahami prinsip-prinsip dasarnya, dan maksimalkan keuntungan Anda sekarang juga!


Ajaib Robo merupakan Robo Advisor pertama di Indonesia yang menyediakan platform digital yang menyediakan perencanaan keuangan secara otomatis dan digerakkan oleh algoritma

Web: www.ajaib.co.id

Instagram: @ajaib.robo

Ebook: www.ajaib.co.id/ebook