Beginner

Ini Bedanya Investasi Versi Orang Biasa Vs Milliarder by Dedi Utomo

sukses.jpg

Salah satu fakta era modern saat ini adalah semakin banyak orang yang menyadari pentingnya investasi sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai kekayaan. Sebagai bukti, makin banyak topik talkshow di televisi, radio, bahkan di banyak artikel populer di media massa terkait investasi. Mulai dari memperkenalkan berbagai jenis investasi hingga tips sukses investasi.

Alasan orang berinvestasi cukup bervariasi, namun kebanyakan adalah untuk menumbuhkan nilai kekayaan dan mencapai kebebasan finansial di masa pensiun. Tak sedikit orang yang bingung karena merasa sudah mengikuti berbagai tips tapi masih saja belum berhasil dalam investasinya. Nah, terkait masalah ini, kita bisa coba mengikuti pakem berinvestasi dari orang sukses seperti milliarder saham terkenal asal Amerika, siapa lagi kalau bukan Warren Buffett. Dia dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, karena kejeniusannya dalam urusan investasi.

Setelah ditelusuri, ternyata kunci keberhasilan opa Buffett dalam investasi adalah karena ia tidak memiliki prinsip seperti kebanyakan orang. Mau tahu apa saja prinsip Buffett ini?

Dunia semakin rumit! Meski begitu, tetaplah berpikir sederhana

Kita semua sadar, dunia berkembang begitu cepat. Teknologi dan terobosan baru selalu muncul dalam hitungan jam, disrupsi terjadi di mana-mana, selalu ada saja hal baru yang muncul dan diprediksi akan menjadi besar. Akhirnya, investor berbondong-bondong untuk menanamkan modal pada usaha rintisan ini.

Tapi, Milliarder Buffett berbeda, cara berpikirnya tetap sederhana, ia hanya berinvestasi pada hal-hal yang sudah terbukti jadi kebutuhan utama dalam kehidupan banyak orang, misalnya bisnis makanan, minuman, atau energi. Buffett tercatat berinvestasi di perusahaan seperti Kraft Heinz, Wells Fargo, dan Coca-Cola. Bukan berarti menolak berbagai inovasi yang bermunculan, Buffett hanya tidak mudah tergoda menanamkan modal pada produk yang diprediksi akan 'meledak' di pasaran, namun faktanya belum punya konsumen yang jelas.

Kenali seluk beluk bisnis yang akan ditanamkan modal

Poin ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya, menurut Buffett, mengenali bidang usaha dari perusahaan yang akan dipilih untuk investasi adalah sangat penting. Maksudnya begini, banyak orang di luar sana memutuskan untuk berinvestasi setelah ditawari oleh pihak yang belum mereka kenal dengan baik. Mereka tergiur dengan janji tingkat keuntungan besar yang akan diperoleh. Padahal, belum tentu mereka paham bidang usahanya seperti apa.

Ia terang-terangan menyatakan kalau tidak mau berinvestasi pada bisnis yang tidak diketahuinya secara mendalam. Yang menarik juga, Buffett bahkan merasa perlu mengenal manajemennya, menurut Buffett karakter orang yang menjalankan bisnis akan sangat menentukan kegagalan atau kesuksesan investasi yang ia lakukan. Jika ia merasa si pengelola tidak memiliki cukup kompetensi , maka Buffett pun akan menarik dana investasinya di perusahaan tersebut.

Paham betul nilai riil sebuah bisnis atau produk

Selain mengenal bidang dan manajemen yang mengelola, Buffett juga sangat ketat menyeleksi usaha atau produk yang jadi sasaran investasinya. Ia mesti benar-benar mengetahui nilai intrinsik dari bisnis tersebut. Misal begini, dengan tren pasar yang dinamis dan berubah-ubah, selalu ada saja produk atau bidang usaha yang mendadak mencuat jadi primadona. Dan ya, sesuai dengan hukum ekonomi, jika ketertarikan meningkat, maka nilainya pun melambung tinggi.

Kebanyakan orang akan tergoda dengan fenomena semacam itu, hingga mereka pun menginvestasikan dananya pada produk atau bidang usaha yang populer tadi. Padahal, nilai sesungguhnya belum tentu setinggi itu. Cara berinvetasi semacam ini sangat dihindari Warren Buffett. Ia berusaha keras mencari tahu nilai sesungguhnya dari sasaran investasinya. Jika memang nilai riilnya tinggi, baru Buffett memutuskan untuk berinvestasi.

Baca Juga: (Analisa Fundamental Saham) 3 Rasio Untuk Memilih Saham Yang Sedang Murah

Pasar rentan terpengaruh pemberitaan media massa, tapi Buffett tidak menghiraukan headline Berita

Di tengah arus informasi semakin deras, satu berita atau celetukan di media sosial saja bisa memicu polemik dan pergunjingan banyak orang. Hal semacam ini seringkali juga mempengaruhi sektor investasi akibat ada kepanikan atau antusiasme berlebihan terhadap suatu hal.

Tapi buat Buffett, ia merasa tidak peduli dengan headline berita atau rumor yang beredar di media massa. Seperti diterangkan sebelumnya, kalau ada antusiasme berlebihan pada produk atau usaha tertentu, Buffett akan melihat dan mempelajari dulu nilai riilnya secara cermat, dan tidak tergesa-gesa menanamkan modal.

Pahami cara mengukur kinerja investasi

Selain memperhitungkan kinerja investasi dengan baik, Buffett juga tidak mengharapkan keuntungan dalam waktu cepat. Menurutnya, kesalahan banyak investor adalah tidak berpikir panjang, dan akhirnya mengharapkan keuntungan instan. Terkait hal itu, seorang investor harus tidak mudah panik jika keadaan sedang memburuk, tapi juga tidak mudah tergoda kalau ada saham yang mendadak populer di pasar.

Jangka waktu investasi Buffett minimal adalah lima tahun. Hal itupun ia lakukan lewat proses yang sebelumnya sudah Stockbit bahas, mulai dari pilihan sektor usaha, mengenal bidang dan manajemen yang mengelola, memastikan nilai intrinsik, dan tentunya memantau kinerja investasinya dengan baik. Sederet prinsip dari Buffett ini sebetulnya tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa menggunakannya untuk keperluan investasi kita, meski skalanya tidak sebesar yang dijalani Buffett.

Yuk melek investasi saham, mulai investasi dari Stockbit.

Investasi bersama komunitas.

Apakah kamu adalah tipe investor yang agresif? by Dedi Utomo

agresif.jpg

"Agresif" adalah istilah yang sering kita dengar di dunia investasi. Apa arti sebenarnya dari kata agresif? Apakah kamu seorang investor yang agresif? Dan jika ya, apakah ini baik, buruk atau di antara keduanya?

Ingat! Ini tentang investasi kamu, bukan kepribadian kamu ya

Ketika kita berbicara tentang agresif dalam berinvestasi, kita lebih mengacu pada investasi yang dimiliki seseorang, dan lebih spesifik pada investor itu sendiri. Investor agresif adalah seseorang yang:

  1. Kamu berani mengambil risiko dan memilih instrumen investasi dengan potensi keuntungan yang besar.

  2. Kamu paham siklus investasi dan siap menerima volatilitas yang tinggi.

  3. Fluktuasi pasar dalam jangka pendek bukanlah masalah.

  4. Kamu berpengalaman di semua instrumen investasi dan memiliki pemahaman yang sangat baik tentang dunia investasi.

  5. Kamu Memiliki horizon waktu investasi yang panjang, di atas 5 tahun.

  6. Porsi investasi lebih banyak di saham dari pada instrumen lain.

Kamu dapat melihat bahwa berinvestasi secara agresif memiliki lebih sedikit kaitannya dengan kepribadian kamu, dan lebih banyak lagi hubungannya dengan pilihan investasi yang kamu pilih.

Seperti apa bentuk investasi yang agresif?

Dalam praktiknya, investasi agresif akan cenderung ke arah investasi yang berisiko, fluktuatif, atau keduanya, alokasi dana investasi akan lebih banyak ke instrumen saham daripada deposito atau obligasi. Berbeda dengan seorang investor yang konservatif, yang mana akan berinvestasi dalam instrumen yang tidak berisiko atau stabil.

Mengapa berinvestasi secara agresif?

Aturan emas berinvestasi adalah ketika kamu bersedia mengambil risiko lebih besar, kamu juga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik, tetapi timbal baliknya adalah ada peluang yang lebih tinggi untuk tidak menghasilkan laba sama sekali, atau bahkan rugi. Aturan emas itu adalah alasan utama orang berinvestasi secara agresif. Mereka mengambil risiko yang sedikit lebih besar dengan mengharapkan keuntungann yang lebih tinggi.

Jika kamu masih muda, kamu memiliki waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan nilai investasi kamu, dalam artian, kamu memiliki waktu yang lebih lama untuk membiarkan uang kamu bertumbuh.

Di sisi lain, jika kamu sudah berusia 60-an dan bersiap-siap untuk pensiun, kamu mungkin condong ke arah pendekatan yang lebih seimbang atau konservatif, sehingga kamu akan mengurangi porsi dana investasi di instrumen berisiko tinggi seperti saham, dan lebih banyak ke pasar uang seperti deposito, karena kamu mungkin ingin menikmati dana hasil kerja dan investsi yang sudah kamu lakukan selama ini.

Kapan investasi agresif tidak tepat untuk saya?

Menjadi muda tidak secara otomatis membuat investasi yang agresif cocok untuk kamu. Semuanya bermuara pada tujuan kamu bervestasi. Jika kamu berinvestasi saham untuk DP rumah dalam waktu 1 tahun ke depan, maka investasi yang agresif tidaklah cocok untuk kamu.

Investasi kamu hari ini akan terhubung ke tujuan kamu. Jika tujuan kamu sudah cukup dekat, maka kerugian investasi saham yang kamu lakukan dapat memengaruhi kemampuan kamu untuk mencapai tujuan itu. Tetapi jika tujuan kamu masih beberapa tahun katakan 5/7 tahun dari sekarang, maka kerugian hari ini atau besok bukan masalah karena kamu masih memiliki cukup waktu untuk menumbuhkan nilai investasi kamu.


Investasi Saham - Sedikit demi Sedikit atau Langsung Beli Banyak? by Dedi Utomo

invest rutin.jpg

Ada dua cara berbeda untuk berinvestasi. Cara pertama adalah berinvestasi sedikit demi sedikit setiap minggu. Yang lain adalah menabung selama beberapa minggu atau bulan, kemudian menginvestasikan pada waktu yang bersamaan.

Dua pendekatan ini mungkin terlihat sama, tetapi sebenarnya sedikit berbeda. Dan kami rasa cara pertama adalah cara yang bagus. Inilah alasannya:

Waktu, waktu dan waktu

Salah satu aturan emas dalam berinvestasi, “waktu adalah teman terbaik kamu”. Semakin lama kamu berinvestasi, semakin baik hasilnya. Kamu bisa mendapatkan pertumbuhan yang baik setelah 1 tahun, apalagi dalam waktu lebih dari 10, 20, atau 30 tahun, kamu akan melihat pertumbuhan nilai investasi yang sangat menakjubkan.

Kita juga tahu bahwa keputusan kecil bisa memiliki dampak besar ketika dilakukan dari waktu ke waktu, seperti contoh favorit kami, Compound Interest.

Prinsip yang sama berlaku untuk waktu. Jika kamu menginvestasikan Rp100.000 per minggu, Rp100.000 pertama kamu, akan diinvestasikan selama 10 minggu pada minggu ke 10. Rp100.000 kamu yang kedua akan diinvestasikan selama 9 minggu, dan seterusnya. Jika kamu menabung dan menginvestasikan Rp1.000.000 sekaligus setelah 10 minggu, tidak ada Rp100.000 pertama. Kamu tidak memiliki investasi sama sekali sampai terkumpul Rp1.000.000 di minggu ke 10.

Ini mungkin terlihat kecil, tetapi akan bertambah seiring berjalannya waktu.

Semakin cepat uang diinvestasikan, semakin banyak waktu di pasar dan tentu semakin banyak waktu bagi uang kamu untuk bekerja.

Dollar Cost Averaging

Berinvestasi secara teratur membantu melindungi kamu dari pasang surut pasar saham sehingga diperoleh harga rata-rata saham terbaik. Ini adalah gagasan bahwa harga rata-rata lebih penting dari pada harga berapa pun yang kamu bayar.

Jika kamu berinvestasi Rp1.000.000 pada akhir tahun, maka harga pembelian rata-rata kamu untuk tahun itu adalah berapa pun harga yang terjadi pada hari itu. Tetapi jika jika berinvestasi Rp100.000 seminggu, harga rata-rata kamu mungkin lebih rendah, karena kamu akan mengambil beberapa saham ketika harganya lebih murah. Harga yang lebih rendah berarti pengembalian yang lebih baik yang pada akhirnya berarti lebih banyak uang di saku kamu.

Membentuk Habit

Investasi secara rutin akan membantu kamu membentuk habit yang baik. Semakin sering kamu melakukan sesuatu, semakin mudah untuk terus melakukannya. Sebagai contoh mudah, pikirkan menyikat gigi. Kamu menyikat gigi setiap hari, karena itu bagian dari rutinitas kamu.

Tetapi kamu mungkin perlu mengatur pengingat untuk melakukan meeting dengan rekan kerja, atau memeriksa daftar agenda untuk melihat kapan waktunya.

Keuntungan lain dari berinvestasi dalam jumlah kecil dan rutin adalah membangun kebiasaan yang lebih teratur, yang berarti lebih mudah untuk diingat dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih Ringan

Rp100.000 setiap minggu dan Rp1.000.000 setiap 10 minggu adalah jumlah uang yang sama. Itu hanya matematika. Tetapi, jauh lebih mudah untuk berpisah dengan Rp100.000 dari pada berpisah dengan Rp1.000.000. Menyisihkan Rp100.000 untuk tabungan kamu tidaklah terlalu berat. Dalam skema banyak hal, Rp100.000 cukup mudah untuk dikorbankan.

Dengan berinvestasi dalam jumlah kecil, lebih sering, rasanya seperti tidak terasa bahwa kamu telah berinvestasi dan akan terus terakumulasi sepanjang waktu. Kami tahu bahwa investasi terkadang didorong oleh emosi, sehingga sangat penting untuk menyesuaikan kebiasaan kamu sehingga memastikan kamu memiliki good feeling ketika mengambil keputusan investasi.

Kesimpulan

Berinvestasi dalam jumlah kecil, berinvestasi secara rutin. Pertimbangkan berapa banyak yang mampu kamu investasikan, kemudian pikirkan bagaimana frekuensi terbaik untuk berinvestasi, apakah mingguan atau bulanan dan berapa banyak yang akan disisihkan.

Sudah siap untuk investasi hari ini? Mulai investasi dari Stockbit, aplikasi investasi saham paling cocok untuk generasi milenial kaya kamu